Hukum Qurban untuk Orang yang Sudah Meninggal Dunia

Dalam hal melakukan kurban ketika hari raya idul adha adalah hukumnya sunnah muakkad, namun khusus untuk Rasullullah SAW berkurban hukumnya wajib. Sedangkan pada hukum untuk berkurban yang di lakukan oleh Rasullullah pun diriwayatkan melalui sabdanya yaitu “Aku perintahkan atau diwajibkan untuk berkurban, dan hal tersebut merupakan sunnah bagi kalian (HR. At-Tirmidzi)”. Sedangkan kesunnahan dalam hal ini pun merupakan sunnah kifayah apabila di dalam keluarga merupakan salah satu diantara mereka sudah menjalankan kurban, sehingga gugurlah kesunahan yang lainnya.

 

Apabila di dalam keluarga hanya ada satu orang yang berkurban, maka hukumnya sunnah ‘ain. Sedangkan pada kesunnahan itu pun ditujukan kepada orang yang mampu, merdeka, sudah baliqh dan juga berakal. Pada hukum berkurban merupakan sunnah muakad yang bersifat kifayah yang mana apabila jumlahnya ada di dalam satu keluarga yang banyak, sehingga apabila diantara salah satu dari mereka sudah menjalankannya maka sudah dapat mencukupi untuk segalanya namun apabila tidak, maka hukumnya menjadi sunnah ain.

 

Sedangkan pada hukum qurban untuk orang yang sudah meninggal sedangkan pada masa hidupnya belum pernah berkurban dan yang mengikutsertakan adalah keluarga dari orang yang sudah meninggal. Imam Muhyiddin Syarf an Nawawi di dalam kitab Minhaj ath-Thalibin, secara tegas menyatakan bahwa berkurban untuk orang yang sudah meninggal tidak diperbolehkan, karena tidak ada kurban untuk orang yang sudah meninggal dunia, terkecuali apabila semasa hidupnya pernah menitipkan wasiat.

 

Tidak sah untuk berkurban bagi orang lain atau orang yang masih hidup tanpa seijinnya. Dan tidak untuk orang yang sudah meninggal dunia, apabila orang yang sudah meninggal tidak berwasiat untuk di kurbani. Dalam hal ini pun menjelaskan bahwa berkurban merupakan suatu ibadah yang tentu membutuhkan niat, sedangkan untuk niat dalam melakukan kurban merupakan suatu hal yang mutlak dan sangat diperlukan. Akan tetapi dalam hal melakukan kurban untuk orang yang sudah meninggal, ada pihak lain yang memiliki pendapat bahwa berkurban untuk orang yang sudah meninggal di perbolehkan, dan hal ini pun telah dikemukakan oleh Abu al Hasan al Abbdi dengan alasan bahwa berkurban adalah suatu sedekah, sedangkan untuk bersedekah untuk orang yang sudah meninggal merupakan sah dan dapat memberikan kebaikan, serta pahala nya pun juga akan sampai pada orang yang sudah meninggal dunia.

 

Sedangkan diantara dua pendapat yang memiliki pendapat bertolak belakang pun wajar saja jika para masyarakat merasa dibingungkan mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak diperbolehkan. Akan tetapi apabila berkurban untuk orang yang sudah meninggal namun menggunakan harta dari orang tersebut, maka kurban tersebut di perbolehkan, yang mana alasannya karena kematian tidak dapat untuk menghalangi orang yang sudah meninggal untuk ber-taqarrub kepada Allah.